Saat ini aku duduk di depan komputerku.
Seperti biasa, jari-jariku mulai mengetuk abjad-abjad keyboardnya. Aku
menuliskan sesuatu, aku membeberkan pikiranku, aku mencurahkan isi hatiku, aku
menceritakan apa yang aku alami selama ini, baik yang menyenangkan maupun yang
menyakitkan. Pengalamanku yang manis maupun yang pahit kuungkapkan satu-persatu
lewat tuts-tuts keyboard ini, untuk selanjutnya kukirimkan buat temanku yang
berada jauh di seberang.
Ada rasa rindu mencekam di batin ini, rindu untuk bertemu dengan temanku yang jauh di seberang sana. Namun aku harus menerima kenyataanku sebagai manusia, sebagai makhluk tercipta, yang dibatasi oleh ruang dan waktu, yang membuat aku tak dapat berada di dua tempat pada saat yang sama. Karena itu, kerinduan akan temanku hanya bisa tersalur lewat permainan jari-jemariku di atas keyboard komputerku ini.
Ketika tombol emailku kupencet dan suratku menerobos keterbatasan ruang segi empat ini untuk menemuinya yang berada jauh di seberang sana, aku melantunkan sebuah harapan, aku panjatkan seuntai doa agar temanku bahagia, agar temanku terhibur, agar temanku mendapatkan dukungan dan kekuatan baru untuk menghadapi tantangan hari ini dan masa depannya.
Aku masih di depan komputer ketika aku tersentak dari lamunanku. Pikiranku beralih menuju seorang teman YANG LAIN, teman yang berkuasa atas jagat raya, teman yang memegang nasib hidupku. Apakah aku juga memiliki sebuah keyboard untuk berkontak denganNya?? Apakah aku memiliki suatu saluran untuk mengisahkan seluruh rasa batinku padaNya?? Setelah berdiam sejenak, jawabannya mengetuk dinding jantungku.... Sebuah hati yang mencintai, sebongkah hati yang tak henti berseru:Abba....Abba....¡¦ adalah alat ampuh mendekatkan diriku denganNya.
Abba...!!! Bapa...!!!¡¨ Itulah email yang kukirimkan buatNya setiap hari, setiap saat, setiap detik hidupku.
Tarsis Sigho - Taipei