Teringat pohon mangga di taman sekolahku dulu. Rimbun berdaun lebat. Ia rimbun karena banyak cabangnya. Mulanya cuman bercabang dua. Lalu kedua cabang itu bercabang lagi dan bercabang lagi. Dan karenanya ketika tiba waktu panen, ia menghasilkan banyak buah. Sekolah tetanggapun kebagian jatah.
Saat mengenang alma matterku, aku seakan menoleh melihat jejak tapakku sendiri. Ternyata aku kerap kali harus berdiri di banyak jalan cabang. Aku kerap berhadapan dengan banyak persimpangan jalan. Setelah persimpangan yang satu kulewati, ternyata aku harus berhadapan lagi dengan persimpangan berikut. Jalan banyak bersimpang, seperti pohon mangga ditaman sekolahku yang banyak bercabang.
Setiap kali tiba di persimpangan jalan hidupku, saya pasti berdiri sejenak membuat pilihan. Aku memilih berbelok ke kanan, walau dalam hati ada sejuta tanda seru yang mengatakan bahwa di simpang kiri mungkin lebih baik untuk dilewati. Yah ¡Kpengalamanku berkata bahwa aku selalu lebih mudah melihat kalau yang di seberang itu lebih baik. Yang di seberang
itu lebih menari. Yang di seberang itu tak banyak aralnya. Selalu saja mudah mengatakan bahwa puncak gunung nun jauh di sana nampak lebih indah dari pada yang di samping rumahku. Aku bermimpi!!!
Karena aku telah memilih, aku tak bisa berbalik. Berbalik itu mundur. Aku berbisik pada diriku; Ini adalah pilihanku yang terbaik.
----------------------
Teman, Hanya satu pesanku: Maju terus...
Tarsis Sigho - Taipei