Maling

 

SUATU sore, saya diminta menemani Mpu Peniti makan soto kikil. Ketika kami sedang asyik makan soto, di ujung jalan ada sebuah keributan kecil. Ada maling yang tertangkap basah mencuri dan sedang dikejar massa. Mpu Peniti geleng-geleng kepala. Raut mukanya menyiratkan keprihatinan sangat dalam. Beliau berpikir jauh.

Dalam perjalanan pulang, di mobil, Mpu Peniti membolak-balik koran bekas pagi itu. Lagi-lagi ia geleng-geleng kepala. Kata beliau, "Negeri ini sudah dirasuk setan maling." Sambil berkelakar, beliau menjelaskan bahwa maling yang tadi dikejar massa hanyalah maling lapar, yang kemungkinan kepepet dan kehilangan akal untuk mencari nafkah. Dia maling karena lapar.

Tapi lain lagi berita di koran, pejabat dan pengusaha adu lihai menjadi maling. Karena ingin cepat kaya, jalan pintas ditempuh. Lalu ada yang maling karena memanfaatkan kekuasaan. Mpu Peniti menyebutnya maling mumpung. Yang paling berbahaya tentu saja maling yang mencuri karena serakah. Jenis ini akan mencuri terus tanpa terpuaskan. Maling ini tidak akan pandang bulu. Pokoknya, ia akan maling sampai ketahuan.

Mental maling, menurut Mpu Peniti, sudah meracuni hingga ke sumsum. Kegiatan maling dilakukan oleh hampir semua orang, maka kegiatan maling dianggap sah-sah saja. Maling dianggap sebagai pemberdayaan kesempatan.

Menurut Mpu Peniti, ini bejat sekali. Pejabat merasa ada kesempatan, lalu maling. Pengusaha diberi kesempatan oleh pejabat, ikut pula menjadi maling. Celakanya, yang menangkap maling, kalau diberi kesempatan, sering pula menjadi maling. Pokoknya, parah sekali budaya maling ini.

Belum lama seorang teman bercerita. Katanya, ia baru saja menerima office boy yang masih muda belia. Pemuda ini datang dari sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Anaknya cerdas biarpun cuma lulusan SMA. Teman saya menerima pemuda ini karena terkesima oleh keluguan dan tingkah laku yang menunjukkan kejujuran dan kepolosan.

Tapi, dua bulan kemudian, office boy itu terpaksa dipecat. Ia ketahuan mencuri uang petty cash. Saat diinterogasi, ia mengaku polos bahwa kegiatan maling itu ia jalani karena desakan teman-teman sesama office boy. Minggu-minggu pertama, ia sama sekali tidak mau menjadi maling. Ia ingat nasihat guru mengaji di desa. Tapi ia lalu dimusuhi oleh teman-temannya.

Ia juga bingung. Di antara teman-temannya, kegiatan maling di kantor malah seperti lomba. Selalu didiskusikan, dan yang paling pandai menjadi maling selalu disoraki. Seolah maling itu sama martabatnya dengan pahlawan. Akhirnya ia bingung total. Daripada dimusuhi, akhirnya ia memutuskan maling juga. Ia dianggap bodoh kalau tidak memanfaatkan kesempatan. Terpaksa ia menyerah juga.

Mendengar cerita itu, saya tiba-tiba merasa ikut bersalah. Tanpa saya sadari, saya juga terlibat ikut menyoraki budaya maling. Saya selalu berpartisipasi aktif dalam setiap pemberdayaan kesempatan. Dari mengurus KTP, paspor, hingga tertangkap polisi di jalan. Saya justru membuka jalan untuk maling.

Mpu Peniti berkelakar dengan saya bahwa saat ini sangat sulit menemukan pengusaha sukses sejati yang merangkak dari bawah. Tanpa menjadi maling. Lebih sering kita menemukan pengusaha yang meroket sangat cepat dan sukses mendadak karena menjadi partner pejabat dalam ''pemberdayaan kesempatan''.

Pernah sekali saya ikut makan malam dengan sejumlah teman pengusaha. Seorang teman kami mengeluh karena sudah hampir dua tahun proyeknya di sebuah perusahaan terkatung-katung. Ia bosan dipingpong ke sana kemari. Tiba-tiba, seorang teman nyeletuk, "Gampang tuh solusinya. Cari saja malingnya. Ajak kerja sama, pasti beres." Maling itu adalah partner terbaik untuk menggolkan proyek Anda.

Dua minggu kemudian, teman kami mengabarkan bahwa proyeknya tembus juga. Ternyata malingnya adalah istri sang direktur utama. Saya tertawa mendengar cerita itu. Di negeri ini, budaya maling memang sudah sangat kronis. Jangankan office boy, istri direktur saja ikut maling. Jadi, jangan heran; asalkan Anda kenal malingnya, semua urusan dijamin beres. Percayalah!

Kafi Kurnia