Menanam Benih
MATA Madam Eeva Ahtisaari kelihatan berkaca-kaca ketika saya ceritakan bagaimana kehidupan masyarakat Aceh yang jauh berbeda setelah terwujudnya perdamaian pasca perjanjian Helsinki. Masyarakat Aceh sekarang sudah terbebas dari ketakutan, ancaman, dan yang terpenting, "no more killings". Saya gambarkan pula, bagaimana suasana hari Lebaran yang lalu, ketika puluhan ribu orang Aceh yang tinggal di Medan dan sudah hampir 15 tahun tidak berani pulang ke Aceh karena adanya konflik, berbondong-bondong mudik untuk berlebaran, sehingga membuat jalan dari Medan ke Aceh menjadi begitu padat karena banyaknya kendaraan. Saya bisa mengerti, mengapa Madam Ahtisaari begitu antusias dan terharu mendengarnya; karena suaminya, mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, mempunyai peran yang cukup besar dalam memfasilitasi dan menjadi mediator pada pertemuan negosiasi antara GAM dan pemerintah RI.
Melihat pancaran wajah Eeva Ahtisaari yang kelihatan 20 tahun lebih muda dari usianya yang hampir 70 tahun, kelihatan ia seorang yang rendah hati dan berhati lembut. Wajar saja, kalau ia begitu mendukung dan bangga dengan apa yang dilakukan suaminya dalam usaha untuk menciptakan perdamaian dunia melalui lembaga NGO yang didirikan suaminya pada tahun 2000, yaitu Crisis Management Initiative (CMI) yang berkedudukan di Finlandia. Madam Eeva juga menceritakan kesibukannya karena harus mendampingi suami untuk pulang pergi antara Geneva dan Finlandia dalam mewujudkan perdamaian di Kosovo. Saya yakin, mereka berdua menjalani hidupnya dengan kebahagiaan batin yang besar, karena mempunyai "sense of mission" yang begitu mulia. Apalagi ketika mengetahui apa yang dilakukannya telah membuahkan hasil yang positif di Aceh.
*
Padahal keharuan mendalam karena suka citanya mendengar "no more killings in Aceh", ditunjukkan oleh seorang Eeva yang tidak pernah ke Aceh, tidak ada keterikatan ras, budaya, atau mungkin belum pernah kenal dengan orang Aceh sebelumnya. Memang, seorang yang hatinya penuh cinta, akan merasakan penderitaan atau kesenangan orang lain walaupun orang lain tersebut bukan anggota kelompoknya.
Kalau menurut Thomas Lickona, mereka yang telah mencapai tahapan moral tertinggi adalah mereka yang menghormati prinsip kemanusiaan tanpa melihat kelompok, ras, suku dan agama. Mereka tetap berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dan kebenaran universal, walaupun harus berbeda dengan kelompok atau ikatan primordialnya. Mereka akan bersikap adil dan membela pihak yang benar, walaupun kepada kelompok yang berbeda pandangan politik. Seperti halnya cerita dari Bible "Orang Samaria yang Baik Hati" (Good Samaritan), yang memberikan contoh bagaimana se- orang Samaria yang bijak menolong seorang Yahudi yang terkapar di padang pasir, walaupun di antara kedua bangsa tersebut sedang saling bermusuhan.
Orang bijak mengatakan, bahwa rahasia untuk mendapatkan kebahagiaan sejati adalah berbuat kebajikan tanpa pamrih, bahkan melupakan semua kebajikan yang pernah dilakukan. "Berbuat kebajikan karena kita senang melakukannya, bukan karena ingin dibalas atau dipuji". Saya pernah mendengar bahwa ada seorang psikiater yang memberikan "resep" ampuh pada para pasiennya yang menderita depresi, yaitu dengan menyuruh mereka untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain. Mereka yang merasa dirinya berharga, yaitu dapat memberikan kebahagiaan pada orang lain, dan mempunyai "sense of purpose", akan hidup bahagia. Bahkan mereka bisa menjadi "addicted" atau kecanduan untuk selalu melakukan kebajikan.
*
Inilah mungkin yang perlu dihidupkan dalam masyarakat kita untuk senantiasa berbuat kebajikan tanpa pandang bulu, bersikap objektif dan adil walaupun kepada kelompok atau SARA berbeda. Sikap ini memang seharusnya ditanamkan sejak usia dini, misalnya dengan memberikan inspirasi bagaimana Johnny the Appleseed telah menanam pohon apel hanya untuk kepentingan orang lain, tanpa berpikir bahwa ia akan berteduh di kerindangan daunnya, atau memetik buahnya. Ia melakukannya karena semata-mata merasa "kecanduan" untuk melakukannya.
Kisahnya, Jonathan Chapman yang lahir tahun 1774 di Boston, sering berkelana dengan membawa kantong tas yang berisi biji-biji buah apel untuk disebarkan ke mana saja dia pergi. Ia sengaja menanam pohon apel agar para kelana lain (orang-orang yang dalam perjalanan) dapat mengambil buah apel segar penawar dahaga dan lapar, dan beristirahat di bawah keteduhan pohon apel. Kabarnya ada puluhan ribu pohon apel yang sudah ditanamnya di kawasan Ohio dan Indiana di Amerika Serikat.
Selain pohon apel, ia juga menanam banyak sekali pohon obat-obatan di tanah- tanah kosong, sehingga tanaman obatnya terbentang terlihat seperti hamparan permadani hijau. Siapa saja boleh memetiknya. Ia memang terkenal sangat baik hati dan dicintai oleh siapa saja yang mengenalnya. Walaupun ia telah meninggal dunia, pohon-pohon apel yang ditanamnya terus memberikan manfaat yang besar sekali bagi masyarakat di sekitarnya.
Bayangkan, kalau satu buah apel terdiri dari 5 biji, sedangkan setiap biji dapat menghasilkan pohon yang akan berbuah ribuan buah apel, maka berapa juta pohon apel yang tumbuh selanjutnya dari benih-benih yang ditanam oleh Johnny? Maka, tidak heran nama Johnny menjadi legenda yang terus dikenal sepanjang masa. Banyak sekali orang yang ingin menolong orang lain tanpa pamrih karena terinspirasikan oleh kisah Johnny the Appleseed.
Salah satu modul pendidikan karakter di SD Karakter di Cimanggis adalah memperkenalkan konsep manusia idealis, yaitu manusia yang selalu berpikir untuk menjadikan dunia yang lebih baik. Ide ini diambil dari sebuah film yang amat menyentuh yang berjudul Pay It Forward, dimainkan oleh dua pemenang Academy Awards, Helen Hunt dan Kevin Spacey, dan seorang pemain cilik Haley Osment, yang berperan sebagai Trevor, seorang anak yang mempunyai ide hebat untuk mengubah dunia.
Pesan mendasar film ini adalah bagaimana berbuat baik tanpa menuntut balasan, tetapi membalasnya kepada orang lain (Pay It Forward).
Diceritakan bahwa seorang anak usia 11 tahun, Trevor, mendapatkan tugas dari gurunya untuk membuat sebuah proyek yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik. Trevor mendapatkan sebuah ide yang jenius, yaitu bagaimana membuat sebuah kebaikan berantai. Ia merencanakan untuk berbuat baik kepada tiga orang, dan masing-masing yang ditolong Trevor, diharapkan dapat membalas kebaikannya kepada tiga orang lain, dan seterusnya setiap orang yang menerima kebaikan diharapkan dapat "pay it forward" kepada tiga orang lainnya, sehingga penyebaran kebaikan ini bisa begitu meluas. Persis seperti ide surat berantai.
Ternyata, sebuah ide brilian dari seorang anak kelas 5 SD, telah membuahkan hasil yang tak terduga, yaitu ribuan orang telah tersentuh oleh ide "pay it forward"nya, sehingga begitu banyaknya orang yang sedih menangisi kematian Trevor. Trevor tidak pernah mengetahui bahwa apa yang dilakukannya telah membuahkan hasil yang luar biasa. Namun dalam hidupnya yang amat singkat, Trevor telah menanamkan benih kebajikan, yang terus menyebar, seperti halnya benih apel yang ditanam Johnny the Appleseed.
Bayangkan, apabila setiap manusia mempunyai inisiatif untuk berbuat suatu kebajikan, ibaratnya menanam sebutir benih jagung, yang akan tumbuh tujuh tangkai, dan setiap tangkai akan mempunyai
satu bonggol dengan seratus biji benih. Mereka adalah para builder yang memakmurkan bumi ini. Namun kalau kita lebih banyak berdiam diri, dan bahkan lebih banyak menjadi pengritik (destroyer), maka kemudharatan-lah yang akan kita panen. Kita memang memerlukan lebih banyak builder yang akan membangun negeri ini, karena sudah terlalu banyak para destroyer. *
By : Ratna Megawangi